Notification

×

Iklan

Iklan

Pojok NTB dan Mi6 Gelar Mimbar Bebas 100 Hari Iqbal-Dinda: Ruang Demokrasi, Kritik, dan Harapan Publik

| Senin, Mei 26, 2025 WIB Last Updated 2025-05-26T08:28:04Z
Pojok NTB dan M16 akan gelar mimbar bebas terkait kepemimpinan Iqbal - Dinda.(Istimewa).


PARAGRAFNEWS.id – Memasuki 100 hari masa kepemimpinan Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri (Iqbal-Dinda), Pojok NTB bersama Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 akan menggelar Mimbar Bebas sebagai ruang terbuka bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi, kritik, dan harapan.


Kegiatan yang bertajuk Mimbar Bebas 100 Hari Iqbal-Dinda ini akan berlangsung pada 1 Juni 2025 di Tuwa Kawa Coffee Roastery, Mataram, dan disiarkan langsung melalui Talenta FM, sehingga masyarakat luas dapat mengikuti dan berpartisipasi secara aktif.


Evaluasi Awal Kepemimpinan Iqbal-Dinda


Gubernur dan Wakil Gubernur NTB dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025. Tanggal 31 Mei 2025 menandai 100 hari pertama mereka memimpin NTB. Masa ini kerap dijadikan sebagai tonggak evaluasi awal terhadap gaya kepemimpinan dan arah kebijakan yang diambil kepala daerah.


Menurut M. Fihiruddin, Admin Pojok NTB sekaligus Direktur LOGIS NTB, Mimbar Bebas ini bukan ajang untuk menjatuhkan, tetapi merupakan wadah untuk mengingatkan pemimpin agar tetap berpijak pada aspirasi rakyat.


“Seratus hari telah berjalan. Saatnya masyarakat berbicara, apakah janji tinggal kata-kata, atau telah menjadi nyata,” ujar Fihiruddin di Mataram, Senin 26 Mei 2025.


Ia menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi partisipatif, suara rakyat adalah elemen penting yang harus terus diakomodasi. Karena itu, Mimbar Bebas menjadi panggung alternatif untuk menyuarakan pendapat secara terbuka tanpa rasa takut.


“Jika pemimpin tak mau mendengar suara masyarakat di hari ke-100, maka ia akan tunarungu di hari ke-1000,” tegasnya.


Fihir menambahkan, kegiatan ini terbuka untuk seluruh elemen masyarakat – baik yang ingin menyampaikan kritik, apresiasi, maupun pandangan netral.


“Setiap suara memiliki hak yang sama untuk didengar. Ini bukan untuk menjatuhkan, tapi mengingatkan agar Iqbal-Dinda tetap berpihak pada rakyat,” tambahnya.



Ia juga menekankan pentingnya semua pihak melihat Mimbar Bebas ini sebagai instrumen demokrasi yang sah, yang dapat membantu menciptakan keseimbangan antara kekuasaan dan rakyat.


Narasi Alternatif dan Kontrol Publik


Pojok NTB dan Mi6 berharap Mimbar Bebas ini menjadi ruang lahirnya narasi alternatif terhadap berbagai klaim resmi pemerintah. Dengan begitu, masyarakat memiliki sumber informasi yang lebih objektif untuk menilai keberhasilan maupun kekurangan program-program pemerintah.


“Jangan pernah lupa. Seratus hari sering dijadikan barometer awal keseriusan dan arah kebijakan seorang pemimpin dalam menjalankan program prioritas,” jelas Fihir.


Ia juga menyebut bahwa reaksi Iqbal-Dinda terhadap masukan di Mimbar Bebas ini akan menjadi indikator penting tentang seberapa adaptif dan terbuka mereka terhadap kritik publik.


Sementara itu, Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto yang akrab disapa Didu, menegaskan bahwa Mimbar Bebas adalah wujud dari demokrasi sehat yang harus dijaga. Menurutnya, kegiatan ini bukan ancaman, tetapi cermin bagi pemimpin untuk terus memperbaiki diri.


“Seratus hari pertama bukan masa bulan madu, tapi masa masyarakat membuka mata. Jika seorang pemimpin meminta waktu tanpa kritik di awal masa jabatannya, boleh jadi pemimpin itu ingin bekerja tanpa kontrol, bukan bekerja untuk rakyat,” tandas Didu.


Mimbar Bebas 100 Hari Iqbal-Dinda adalah momen penting bagi publik NTB untuk mengingatkan, menyuarakan pendapat, dan mengawal janji-janji politik yang telah diucapkan. Dengan mengusung semangat keterbukaan, kegiatan ini diharapkan menjadi model ruang publik yang sehat, sekaligus pengingat bahwa dalam demokrasi, suara rakyat tetap harus menjadi pijakan utama kepemimpinan.


×
Berita Terbaru Update